Kamis, 05 Mei 2011








Riwayat Hidup Presiden - Presiden Indonesia !



Tak terasa sebentar lagi Pemilu, jadi tidak salahnya kalo kita mengenal siapa siapa saja yang telah menjadi presiden kita, Berikut kang adek sajikan sejarah riwayat presiden RI.

Ir. Soekarno1 (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – wafat di Jakarta, 21 Juni 1970 dalam umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 - 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Ia menerbitkan Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial itu, yang konon, antara lain isinya adalah menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga kewibawaannya. Tetapi Supersemar tersebut disalahgunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto untuk merongrong kewibawaannya dengan jalan menuduhnya ikut mendalangi Gerakan 30 September. Tuduhan itu menyebabkan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang anggotanya telah diganti dengan orang yang pro Soeharto, mengalihkan kepresidenan kepada Soeharto.

Jend. Besar TNI Purn. Haji Moehammad Soeharto, (ER, EYD: Suharto) (lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921 – wafat di Jakarta, 27 Januari 2008 dalam umur 86 tahun[1]) adalah Presiden Indonesia yang kedua, menggantikan Soekarno, dari 1967 sampai 1998.

Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Setelah Gerakan 30 September, Soeharto menyatakan bahwa PKI adalah pihak yang bertanggung jawab dan memimpin operasi untuk menumpasnya. Operasi ini menewaskan lebih dari 500.000 jiwa.

Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968. Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun tersebut, menyusul terjadinya Kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Ia merupakan orang Indonesia terlama dalam jabatannya sebagai presiden. Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie.

Peninggalan Soeharto masih diperdebatkan sampai saat ini. Dalam masa kekuasaannya, yang disebut Orde Baru, Soeharto membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi dan infrastruktur. Suharto juga membatasi kebebasan warganegara Indonesia keturunan Tionghoa, menduduki Timor Timur, dan dianggap sebagai rejim paling korupsi sepanjang masa dengan jumlah US$15 milyar sampai US$35 milyar.[3] Usaha untuk mengadili Soeharto gagal karena kesehatannya yang memburuk. Setelah menderita sakit berkepanjangan, ia meninggal karena kegagalan organ multifungsi di Jakarta pada tanggal 27 Januari 2008.

Soeharto menikah dengan Siti Hartinah ("Tien") dan dikaruniai enam anak, yaitu Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

Baharuddin Jusuf Habibie (lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 72 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih pada 20 Oktober 1999 oleh suara MPR dari hasil Pemilu 1999. Dengan 373 suara MPR, Gus Dur mengalahkan calon presiden Megawati Soekarnoputri yang memperoleh 313 suara.

Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.[1]

Baik Alwi Abdul Jalil Habibie maupun R.A.Tuti Marini Puspowardojo bukan kelahiran Sulawesi Selatan. Alwi Abdul Jalil Habibie lahir pada tanggal 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A.Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta 10 November 1911. Ibunya anak seorang spesialis mata di Yogya, ayahnya bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah. Ia bersaudara tujuh orang.[2]

Beliau belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-1965 dia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingineur pada 1960 dan gelar doktor ingineur pada 1965 dengan predikat summa cum laude. Dia kemudian bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm di Hamburg, hingga mencapai puncak karir sebagai wakil presiden bidang teknologi. Pada 1973 kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto.
KH Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940; umur 68 tahun; terlahir dengan nama Abdurrahman Addakhil[1]) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia adalah ketua Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Wahid menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Masa kepresidenan yang dimulai pada 20 Oktober 1999 berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR.

Abdurrahman Wahid menyelenggarakan pemerintahan dengan dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional.

Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri (lahir di Yogyakarta, , 23 Januari 1947; umur 61 tahun) adalah Presiden Indonesia dari 23 Juli 2001 - 20 Oktober 2004. Ia merupakan presiden wanita pertama dan presiden kelima di Indonesia. Namanya cukup dikenal dengan Megawati Soekarnoputri. Pada 20 September 2004, ia kalah dalam tahap kedua pemilu presiden 2004. Ia menjadi presiden setelah MPR mengadakan Sidang Istimewa pada tahun 2001. Sidang Istimewa MPR diadakan dalam menanggapi langkah Presiden Abdurrahman Wahid yang membekukan lembaga MPR/DPR dan Partai Golkar. Ia dilantik pada 23 Juli 2001. Sebelumnya dari tahun 1999-2001, ia adalah Wakil Presiden.

Jend. TNI Purn. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (lahir di Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, Indonesia, 9 September 1949; umur 59 tahun) adalah pensiunan jenderal militer Indonesia dan Presiden Indonesia ke-6 yang terpilih dalam pemilihan umum secara langsung oleh rakyat pertama kali. Yudhoyono menang dalam pemilu presiden September 2004 melalui dua tahapan pemilu presiden atas kandidat Presiden Megawati Sukarnoputri. Ia mulai menjabat pada 20 Oktober 2004 bersama Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden.

Yudhoyono yang dipanggil Sus oleh orang tuanya dan populer dengan panggilan SBY, melewatkan sebagian masa kecil dan remajanya di Pacitan. Melalui amandemen UUD 1945 yang memungkinkan presiden dipilih secara langsung oleh rakyat, ia kemudian terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia pertama pilihan rakyat. Ia menjadi presiden Indonesia keenam setelah dilantik pada 20 Oktober 2004 bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Karier militernya terhenti ketika ia diangkat Presiden Abdurrahman Wahid sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada tahun 1999 dan tampil sebagai salah seorang pendiri Partai Demokrat. Pangkat terakhir Susilo Bambang Yudhoyono adalah Jenderal TNI sebelum pensiun pada 25 September 2000. Selama di militer lebih dikenal sebagai Bambang Yudhoyono.

Keunggulan suaranya dari Presiden sebelumnya, Megawati Soekarnoputri pada pemilu 2004 membuatnya terpilih sebagai kepala negara Indonesia. Dalam kehidupan pribadinya, Ia menikah dengan Kristiani Herawati yang merupakan anak perempuan ketiga Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo (alm), komandan RPKAD (kini Kopassus) yang turut membantu menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965.




60 Tahun RI

Gerak Pembangunan di Era Enam Presiden

Sepanjang enam puluh tahun merdeka, Indonesia dipimpin oleh enam presiden, yakni: Soekarno, HM Soeharto, BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Bagaimana gerak pembangunan dalam setiap masa kepemimpinan keenam presiden itu? Siapa di antara mereka yang paling berjasa membangun Indonesia?

Belajar dari pengalaman kepemimpinan negeri ini, ternyata tidak mudah bagi seorang presiden menggerakkan pembangunan nasional. Pengalaman empiris enam Presiden RI itu menunjukkan tidak semua mereka secara nyata mampu melakukan pembangunan.

Sehingga hampir separoh usia republik ini malah dihabiskan dalam suasana revolusi, pergolakan dan euforia politik. Hanya sekitar 30 tahun bangsa ini berkesempatan berkonsentrasi menggalakkan pembangunan.

Ternyata, perjalanan sejarah kepemimpinan bangsa ini menunjukkan bahwa negeri puluhan ribu pulau ini sepatutnya dipimpin seorang pemimpin yang kuat dan bervisi pembangunan. Pemimpin yang bisa merasakan penderitaan rakyat dan mengayomi kemajemukan bangsanya.

Pemimpin yang tidak cukup hanya mengandalkan tingginya keahlian akademis atau kepintaran berwacana dan retorika, atau hanya mengandalkan kharisma, popularitas yang menangguk luapan emosi dukungan politik massa. Tetapi seorang pemimpin visioner yang mempunyai keberanian dan kepercayaan diri yang kuat.

Dengan tidak bermaksud meremehkan peran empat presiden di era reformasi ini, bahwa dua presiden terdahulu patut mendapat penghargaan yang setinggi-tingginya dari bangsa ini. Bung Karno sebagai proklamator mewariskan kemerdekaan dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kendati pembangunan ekonomi tidak banyak dilakukannya. Dia adalah politisi lapangan (field politician) yang terus berupaya mempersatukan NKRI. Bung Karno menutup pintu terhadap investasi asing, terutama dari negara-negara Blok Barat. Bung Karno mengatakan: Go to Hell with Your Aid!

Sementara, Pak Harto mewariskan pembangunan ekonomi yang bertumbuh demikian pesat dan makin mengukuhkan NKRI, sehingga mendapat penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Indonesia. Dia membangun dengan strategi Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan, dengan segala konsekuensinya) dan membuka kran investasi asing.

Bila menoleh gerak pembangunan dalam 60 tahun usia republik ini, Pak Harto mengukir karya besar pembangunan dibanding lima presiden lainnya. Jenderal lapangan (field general) ini membangun Indonesia dengan mengutamakan proyek yang langsung menyentuh kepentingan rakyat, terutama pertanian. Dia tidak mengutamakan proyek-proyek mercusuar. Secara jujur, sepatutnya diakui, bahwa Pak Harto menorehkan peran yang lebih besar di antara pemimpin (presiden) lainnya, khu-susnya di bidang pembangunan ekonomi.

Memang, masing-masing presiden itu menorehkan peran pada masanya. Tapi, jika jujur, haruslah diakui, bahwa Pak Harto-lah yang mengukir karya pembangunan ekonomi terbesar di antara mereka. Bung Karno, memang mempunyai kelebihan tersendiri sebagai proklamator. Sementara para Presiden sesudah Pak Harto beserta para elit politiknya terjebak dalam euforia reformasi.

Presiden BJ Habibie di tengah langkah liberalisasi dan demokrasi sebebas-bebasnya malah melepaskan Provinsi Timor Timur dari pangkuan ibu pertiwi.

Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, selain sibuk keliling dunia, juga sibuk dengan politik dan kontroversi berbagai pendapat dan langkahnya.

Presiden Megawati Soekarnoputri berupaya memperbaiki kondisi ekonomi dengan mengandalkan privatisasi, bahkan menjual Hotel Indonesia yang dibangun ayahandanya sendiri, Presiden Soekarno.

Presiden Bambang Yudhoyono, dalam satu tahun masa jabatannya belum tampak mampu mewujudkan janji-janjinya ketika kampanye. Dia malah menyatakan I don’t care with my popularity, ketika kinerjanya dikritik, terkesan terlalu banyak retorika.

Euforia Reformasi
Ketika HM Soeharto dengan sukarela mengundurkan diri dari jabatan presiden, ternyata belum ada pemimpin yang mampu mengatasi masalah. Sehingga krisis moneter makin berlanjut menjadi krisis ekonomi dan krisis multidimensional sampai hari ini.

Pada era reformasi ini, justru politisi negarawan semakin langka. Kepentingan kelompok makin menonjol. Bahkan kebhinekaan pun difatwakan haram. Kemajemukan tidak lagi diyakini sebagai kekayaan bangsa yang bhinneka tunggal ika. Kekerasan mengatasnamakan agama pun makin menonjol.

Dasar negara Pancasila pun dipandang tidak perlu. UUD 1945 pun dengan mudahnya mengalami tahap perubahan sampai empat kali. Integrasi bangsa ini terancam retak. Bahkan Timor Timur dilepas. Sipadan dan Ligitan telah dicaplok dan Blok Ambalat tengah diincar Malaysia. Aceh dikuatirkan telah berada di ambang genggaman asing dan GAM. Papua bisa mungkin belajar dari Aceh.

Ironisnya, pada era reformasi ini, kemiskinan makin membelenggu. Polio, flu burung dan berbagai jenis penyakit menular merenggut banyak nyawa. Bahkan busung lapar terjadi di bumi pertiwi. Dan, kelihatannya nyaris tidak ada pola untuk mengatasinya. Jangankan membangun, kata pembangunan pun sudah semakin jarang diucapkan.

Kesenjangan pun makin melebar, tidak hanya kesenjangan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang makin jauh sebagai akibat otonomi daerah yang sudah berjiwa federalis, juga semakin nyata kesenjangan kebutuhan hidup dan kesenjangan kemampuan berpikir serta kesenjangan sosial. Lihat saja, antara lain, hypermarket yang tumbuh demikian subur, praktis tanpa pembatasan.
Hal ini ditambah lagi dengan kondisi perpolitikan (demokrasi) yang cenderung makin kurang taat hukum (anarkis dan democrazy).

Kondisi carut-marut dalam perpolitikan nasional dewasa ini, telah mendorong Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara (LPPKB) yang dipimpin Soeprapto menyampaikan pokok-pokok pikiran LPPKB kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

LPPKB menyimpulkan penyebab carut-marutnya kondisi bangsa dewasa ini adalah persoalan moral, etika dan kepatuhan kepada konstitusi. “Kami melihat banyak pelaku politik kurang memahami fatsoen kehidupan politik sehingga menghalalkan semua tindakan,” ujar Soeprapto.

Untuk mengatasi dan mencegah hal itu, menurut Soeprapto, perlu ditekankan kembali landasan utama dalam hidup berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila dan UUD 1945.
Dalam kondisi seperti ini, nama Pak Harto pantas saja menjadi memiliki makna yang amat berarti dengan strategi Trilogi Pembangunan-nya (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan).

Jika ditanya masyarakat di pedesaan Nusantara, tak heran bila mereka merindukan pemimpin besar sekaliber Pak Harto. Sosok Bapak Pembangunan Indonesia itu adalah orang terbesar Indonesia saat ini.

Memang, sebagai manusia, apalagi sebagai pemimpin yang banyak berbuat, pastilah beliau tidak sempurna dan punya kekurangan dan kelemahan. Tetapi sebagai bangsa besar, sepatutnya bangsa ini menghormati para pejuang dan pemimpin yang mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya.

Sebagaimana diharapkan para sesepuh yang tergabung dalam LPPKB, itu agar masyarakat melihat masa lalu secara jernih, terutama hal-hal baik yang telah dilakukan para pemimpin pendahulu, seperti Presiden Soekarno yang sangat gandrung dengan persatuan dan Presiden Soeharto yang sangat gandrung dengan pembangunan.

Dalam pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (13/6/2005), mereka menyatakan mendukung langkah pemerintah melanjutkan hal-hal yang terbukti baik di masa lalu, seperti dikemukakan SBY dalam rapat dengan para gubernur di Jakarta.

Menurut Soeprapto, pengakuan adanya kontinuitas tidak bisa dihindari. “Masa lalu harus dilihat secara jernih dan tidak bisa digeneralisir semuanya buruk-buruk,” ujar Ketua LPPKB Soeprapto seusai pertemuan dengan Presiden.

Menurut Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi yang turut mendampingi SBY pada pertemuan lebih dari tiga jam itu, LPPKB meminta agar hal-hal prinsip dalam membangun bangsa ke depan dipertahankan. Hal-hal prinsip itu adalah bagaimana tetap konsisten dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika atau pluralisme. Berikut ini kami sajikan kilas balik gerak pembangunan dalam era kepemimpinan enam presiden dalam 60 tahun usia Republik Indonesia. ►mti/ch robin simanullang

:<MENU> :
<<UTAMA >>


www.tokoh-indonesia.com